Jalur Menantang Ekspektasi - SUSBM Education
BLOG

Jalur Menantang Ekspektasi

06 Jul 2017 @ Salsa Billa Aprianti


Bagikan :

        Kebetulan atau bukan, saat aku mengisi deretan angka beserta data tanggal lahir sebuah ucapan selamat menghampiri layar smartphone milikku. Walaupun sempat mengalami kesalahan server, dan berkali-kali mendapat desakan kedua orang tua—yang kebetulan saat itu ada urusan mendadak—sehingga sebelum aku mendapatkan informasi baik itu, mereka tak ada di tempat. Bukan main bahagianya saat sebuah informasi berisikan ucapan selamat beserta nama universitas yang aku perjuangkan itu terpampang nyata di depan kedua netraku. Aku berdiri, berteriak, tertawa sembari sesekali menitikkan air mata. Bila mengingat kembali perjuangan klise itu, aku tersenyum hambar. Tanganku bergetar hebat kala menggengam ponsel untuk memberi informasi baik ini pada kedua orang tuaku. Terima kasih, diriku yang telah berjuang keras untuk sampai di tempat ini.

Aku sudah menempuh bimbingan belajar berturut-turut selama dua tahun terakhir. Itu bukanlah hal yang spesial bilamana jarak antara sekolah dan rumah bisa dihitung dengan jengkal tangan. Faktanya tentu saja kebalikannya. Kontras dengan teman seperjuangan, rumah dan sekolahku terhitung nyaris 40 km jauhnya. Aku selalu berkemas pagi dan berangkat saat subuh berkumandang. Kemudian, karena hal tersebut pula, aku terpaksa pulang saat semua anggota keluargaku telah selesai berceloteh saat makan malam bersama. Jujur, aku sering sekali mengeluh. Aku juga merasa seluruh waktu milikku nyaris didedikasikan untuk belajar formal dan sebuah pertemuan berdurasi dua jam setelahnya. Sembari berjalannya waktu, aku menginjaki kelas terakhir di sekolah menengah atas hingga mulai berpikir keras untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya. Aku mulai memutuskan jurusan yang ingin aku ambil. Berkali-kali meragu, berkali-kali dibuat tergiur nilai raport belaka, hingga aku jatuh terpuruk saat melihat nilai kimia milikku yang turun drastis di kelas terakhir ini. Bimbingan belajar milikku menyarankan untuk mengambil program studi yang mengangkat pelajaran matematika dan fisika. Aku meragu, aku membuang peluang bulat-bulat di SNMPTN, aku tetap bersikeras mempertahankan kimia sebagai acuanku maju. Aku berhasil masuk di putaran pertama SNMPTN, namun setelah dinyatakan tak lolos aku jatuh terpuruk hingga sempat frustasi berhari-hari. Aku bisa dibilang trauma, aku trauma sekali mengambil universitas di wilayah tempatku sendiri.

Aku diberikan asupan khusus oleh kedua orang tuaku dalam menghadapi perjuangan untuk menghadapi SBMPTN. Aku diikutkan bimbingan belajar ketat berhari-hari sebelum hari mendebarkan itu tiba. Berhari-hari lagi di setiap pagi setelah hari ujian nasional, aku terpaksa menaiki bis umum untuk mengejar jam bimbingan belajar. Di saat yang lain sibuk menjatuhkan hati pada pilihan-pilihan selain SBMPTN, aku bersikukuh hanya ingin memantapkan dan menargetkan hanya untuk SBMPTN ini saja. Aku benar-benar ingin merasakan euforia itu tertanam di kepalaku dan aku membawa bebannya sembari berlari di pundakku. Temanku semuanya goyah, aku bisa merasakan atmosfir itu kala temanku menjatuhkan pilihannya pada jurusan humaniora. Aku mengangkat kepalaku, aku berusaha yakin pada diriku sendiri untuk tetap memperjuangkan apa yang sudah menjadi mimpiku. Kala saat aku menentukan apa yang sudah kupercayai, aku dihadapkan kembali dengan pilihan universitas. Aku berdecak frustasi, aku benar-benar kesal dibuatnya. Namun, ternyata aku diarahkan dan sudah ditakdirkan untuk memilih universitas di luar wilayahku. Aku lega. Aku sangat lega. Aku akhirnya memutuskan sesuatu yang besar dengan keyakinan luar biasa bisa berkembang walaupun bukan di tempat yang familiar. Walaupun, tak ada satupun dari temanku tertarik untuk menjatuhkan pilihan di universitas itu. Aku tak merasa bersalah sekalipun, aku percaya pada apa yang kupercayai.

  Hari yang mendebarkan itu tiba. Aku melayang jauh ke tempat itu—tempat yang teramat asing, tentu saja. Aku berasal dari Palembang dan tentu saja, hampir seluruh teman dan kerabat seperjuangan masa SMA mengikuti ujian di daerah asal. Berbeda dengan diriku yang disarankan untuk langsung observasi ke lingkungan Jambi sebagai latihan. Berbekal sebuah kepalan tangan dan keberanian, aku menginjakkan kaki tanpa seorangpun di sampingku. Setelah puas mengunyah kasar soal sembari menurun drastisnya kepercayaan diri yang disebabkan oleh soal SAINTEK yang berada di level yang berbeda, aku berusaha membabat habis soal TPA setelahnya sebagai balas dendam. Saya lega, saya berhasil menyelesaikan apa yang telah diperjuangkan saat itu. Dan kembali dengan sebuah kemenangan yang melebihi ekspektasi. Saya mendapatkan pilihan pertama! Apa yang saya idam-idamkan akhirnya terwujud juga. Saya amat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan sebuah hadiah di balik semua kesulitan ini. Semuanya tentulah bermakna dan memiliki hikmah. 

Aku, Salsa Billa Aprianti di kemudian hari akan betul-betul resmi menjadi bagian dari UNJA, Fakultas Pendidikan Kimia. Doakan aku di masa depan menemui sebuah kesuksesan. Walaupun sukses itu hal yang kompleks, setidaknya—memperjuangkan pendidikan itu menjadi tujuanku saat ini. Ayo berkembang bersama sebagai material menuju Indonesia di masa depan! 


KOMENTAR
KATEGORI
© 2017 SUSBM Education